Rabu, 18 Oktober 2017

Self Defense Mechanism

Posted by Kirana on 21.15 with No comments
Untuk bisa bertahan hidup, setiap mahkluk pasti dibekali dengan sistem pertahanan diri. Kalo cicak punya autotomi, kumbang bisa pura-pura mati, lebah punya sengat sebagai pertahanan diri mereka, maka saya juga punya. Bentuk pertahanan diri saya adalah dengan banyak bertanya. Hahaha! Apalagi kalo ketemu orang-orang baru, bisa jadi saya yang paling kepo nanya ini itu ke mereka. Kenapa? Karena saya paling males buat menjelaskan tentang diri saya sendiri dan saya juga males kalo ditanya-tanya. Walaupun sebenernya seneng juga kalo ditanyain dan akan dengan senang hati menjawab. Makanya mending saya yang banyak nanya. Mungkin harusnya saya jadi jurnalis ya.

Saya mulai menyadari hal ini sejak saya tau kalo saya adalah seorang introvert (which is udah lumayan lama) INFJ lebih tepatnya. Waktu itu saya gak kaget sih, cuman yang "oh, iya bener" gitu doang. Tipe kepribadian saya itu jugalah yang membuat saya males ngomong ditanya-tanya dan cenderung lebih suka mendengarkan. Seperti kebanyakan introvert yang emoh berada di bawah spotlight dan lebih suka jadi supporter di balik layar. Walaupun begitu, saya bukan tipe yang dieeemmm banget lho. Kan tadi saya sudah bilang kalo saya sukanya kepo nanya-nanya. Makanya jangan kaget kalo ketemu saya yang introvert ini justru ternyata orangnya bisa heboh dan super kepo. That is how INFJ works. Eh tapi reaksi kami para INFJ tergantung energi orang-orang yang kami temui juga sih. Karena kami tipe yang cenderung menyerap dan mengikuti energi orang-orang di sekitar kami. Kalo kami ketemu orang-orang heboh, kami akan heboh juga. Tapi kalo kami ketemu sama tipe yang kalem, kami jadi kalem juga because we just want to simply fit in.

Selain saya gak suka ditanya-tanya, self defense mechanism saya yang lain adalah I'm not easy to reveal my true self to people alias jaim. Yep. Saya bisa jadi diri saya sendiri hanya di sekitar orang-orang yang benar-benar saya percaya. Dan jumlah orang-orang yang saya percaya ini jumlahnya bisa dihitung dengan jari satu tangan aja. Lagi-lagi itu semua karena saya tipe orang yang suka membuat orang lain merasa nyaman. Saya bisa jadi orang yang berbeda-beda untuk orang yang berbeda-beda juga, udah kaya bunglon. Selain jaim, saya punya ego selangit atau gengsian. Selalu ingin tampil sebagai orang yang kuat, padahal mah... hahahahahacry... Tapi walaupun begitu, saya anti banget dibilang lemah. Kamu bilang deh saya ngebosenin, gak menarik atau apalah, saya masih bisa terima. Cuman kalo kamu bilang saya orang yang lemah, wah berarti kamu udah ngajak saya perang nih.

Itulah tadi secuil mengenai pertahan diri saya untuk menghadapi hidup. Mungkin ada yang berpikiran kalo anak INFJ itu kaya gak punya identitas yang konsisten, saya pun sempat berpikir seperti itu. Tapi lagi-lagi saya berpikir ya itulah cara kami. Kami senang membuat orang-orang disekitar kami merasa nyaman, bahkan kami sering dicap sebagai people pleaser dan kebaikan kami cenderung sering dimanfaatkan. Saya sih fine-fine aja. Saya bahkan pernah diprotes seorang teman gara-gara katanya saya terlalu baik. Tapi saya justru senang. Karena sebenarnya gak ada istilah "dimanfaatkan" kalau kalian emang niatnya tulus dan kalian tidak merasa dimanfaatkan, kan? Ingat, sekecil apa pun kebaikan, Tuhan pasti tau dan kalian akan mendapatkan reward yang baik pula. So, stay good, people!

Ciao~

Selasa, 17 Oktober 2017

Teruntuk Para Orang Tua

Posted by Kirana on 21.24 with No comments
Sudah sebulanan lebih saya jadi tukang jualan online. Produk yang dijual pun bukan produk sembarangan, tapi produk aplikasi bimbel. Sasaran pasar kami adalah emak-emak dan bapak-bapak yang punya anak usia sekolah mulai dari SD, SMP hingga SMA. Enaknya jualan online adalah kami gak harus bertatap muka secara langsung dengan calon pembeli. Dimulai dari sekedar nanya anaknya kelas berapa, masalah belajar yang sering dialami, hingga deal produk terjual, semua interaksi dilakukan lewat layar handphone.

Part favorit saya adalah pas nanya masalah belajar apa yang dialami anak para calon pembeli yang tertarik untuk beli produk kami. Kebanyakan yang beli produk kami mengeluhkan kalau anaknya susah fokus belajar, malas baca buku dan lebih suka main gadget. Menurut saya itu adalah hal yang wajar mengenai problematika anak-anak zaman sekarang (yaiyalah, anak generasi 90-an mana ada yang suka main gadget, yg ada main kelereng sama umbul). Itu tadi adalah keluhan paling umum dari para orang tua yang tertarik dengan produk yang saya jual. Pernah nih saya menemukan orang tua yang ambisius banget sama anaknya. Ada yang anaknya SMP, jago MIPA, eh si ibunya ini pengen biar anaknya jago semua mapel. Lalu ada juga yang punya anak masih kecil tapi udah dilesin sana-sini. Saya lupa anaknya masih kelas 1 atau 2 SD tapi sudah diikutin les macem-macem, terus masih pengen beli aplikasi bimbel ini juga. Duh, saya kok malah kasian ya sama anaknya.

Saya sadar, misi saya disini adalah untuk menjual produk sebanyak-banyaknya. Tapi saya paling gak bisa diem aja nih kalo ada orang tua kayak begitu sama anaknya. Akhirnya saya bilang aja sama ibu-ibu yang pertama kalo setiap anak itu punya bakat beda-beda, kasian kalo dipaksain buat bisa semua, terus saya bilang juga buat maksimalin bidang yang emang anaknya jago. Eh gak taunya terus ibunya bilang kalo bulan depan anaknya mau ikutan olimpiade matematika. Nah itu udah tau anaknya udah sampai taraf olimpiade, hhhngggg. Terus untuk ibu-ibu yang kedua, saya hanya bisa mbatin, "Sabar ya dek." pffffttt. Biasanya kalo ada anak kecil yang diikutin les macem-macem itu karena pertama, emang orang tuanya males ngajarin, yang kedua, orang tuanya sibuk. Faktor pertama sangat wajar terjadi. Orang tuanya males ngajarin, anaknya pun jadi males belajar. Ya dong, buah jatuh gak jauh dari pohonnya kan. Kalo faktor nomor dua biasanya beda lagi. Karena orang tuanya sibuk, biasanya mereka punya uang tapi gak punya waktu sekaligus ambisius anaknya pengen jadi yang paling pinter. Ini nih yang agak bahaya. Jadilah anaknya diikutin les macem-macem, katanya sih biar pinter. Padahl bisa aja anaknya jadi kecapean terus kurang bahagia karena hidupnya belajar mulu.

Teruntuk para orang tua dan calon orang tua di luar sana.... *Deep breath* Punya anak itu mudah (dengan bantuan Allah SWT tentunya) tapi, jadi orang tua itu susyah. Lho. Kenapa? Karena kalo gampang, saya sekarang pasti udah jadi orang tua hahaha. Kalian yang mau jadi orang tua pernah bayangin gak sih kalo kalian itu nantinya bakal menghadirkan seorang manusia ke dunia, manusia yang juga punya perasaan, punya keinginan, punya pemikirannya sendiri yang nantinya akan menjadi manusia dewasa yang menjadi bagian dari sebuah masyarakat sosial dan nantinya apa yang akan dia perbuat itu sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana kalian memperlakukannya sedari kecil hingga siap menghadapi dunia atau sesuai dengan didikan yang kalian berikan, yang tak lain adalah orang tuanya sendiri. Saya tau semua orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang baik, gak ada orang tua yang pengen anaknya jadi terroris atau berbuat yang tidak baik, kan? Tapi ternyata semakin kita paranoid tidak ingin hal buruk terjadi pada anak kita, malah hal itu yang akan terjadi. Gak percaya? Nih saya contohin. Misal ada orang tua, gak pengen anaknya sakit, terus anaknya jadi apa-apa dilarang, makan ini gak boleh, makan itu gak boleh, aktivitas outdoor kotor-kotor dikit gak boleh. Tau gak akibatnya apa? Anaknya malah jadi sakit-sakitan.

Saya sangat setuju dengan saran untuk tidak terlalu sering mengatakan jangan atau tidak boleh kepada anak-anak terutama yang sedang dalam tahap perkembangan dini. Malah justru kepada orang tuanya lah kita harus banyak-banyak berkata jangan atau tidak boleh melarang anak mereka untuk melakukan aktivitas yang bisa membuat mereka lebih banyak belajar, tentunya sesuai dengan porsi belajar sesuai dengan umur mereka (I wish every parents read about developmental psychology). Kalo apa-apa anaknya dilarang sih berarti orang tuanya yang paranoid atau tidak mampu menjelaskan kepada anak mereka dengan bahasa yang mudah dimengerti. Gitu kok mau jadi orang tua. Kasian Indonesia nanti.

Udah bukan zamannya orang tua untuk memaksa-maksa anaknya untuk selalu menjadi seperti yang mereka harapkan. Orang tua seperti itu adalah orang tua era baby boomer yang lahirnya tahun 60-an seangkatan sama bapak ibu saya. Walaupun setiap orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya, tapi kita juga tidak boleh lupa kalau anak itu manusia juga seperti kita yang punya harapan dan cita-cita mereka sendiri. Selama harapan dan cita-cita mereka tidak melanggar norma, hukum, atau agama, harusnya orang tua sih bisa mendukung, bukan malah meremehkan mereka. Ini adalah kasus yang banyak terjadi dan sering bikin saya sedih. Apalagi kalo sudah bawa-bawa "ridho Allah adalah ridho orang tua," orang tua udah merasa paling bener. Tapi ini juga nggak salah. Ridho Allah adalah ridho orang tua, iya, kalau anaknya juga ridho. Jadi kalo orang tua ridho tapi anaknya pura-pura ridho, hasilnya akan sama nggak bagusnya alias kurang maksimal apalagi yang nanti akan menjalani konsekuensinya adalah anaknya. Kuncinya ada pada yang nanti akan menjalaninya.

Bukan berarti saya meng-encourage anak-anak untuk "melawan" orang tua, tapi lebih ke meng-encourage anak-anak agar berani menyampaikan aspirasi dan keinginannya sendiri. Orang tua pun harusnya tidak saklek dan kolot-kolot amat. Selama keinginan anak mereka tidak melanggar hukum, norma maupun agama, dan mereka sanggup menanggung apa pun konsekuensi pilihan yang mereka ambil, tidak ada salahnya orang tua untuk mendukung, jika nanti mereka gagal, beri mereka semangat agar bisa bangkit lagi. Itu baru namanya orang tua yang baik. Karena setiap orang punya nilai yang berbeda-beda. Jadi harap diingat ya, untuk para orang tua maupun calon orang tua. Menjadi orang tua itu tanggung jawabnya besar. Jangan ingin punya anak gara-gara hanya sering ditanya, "Kapan punya momongan?" atau punya anak karena ingin menuntaskan ambisi-ambisi kalian para orang tua yang belum tercapai, duh bahaya. Jika pun kalian memiliki harapan bagi anak kalian, berharaplah agar dia kelak menjadi orang yang bahagia agar bisa lebih banyak menciptakan kebahagiaan di dunia.

Ciao~

Sabtu, 23 September 2017

Tour de Soft Ice Cream

Posted by Kirana on 21.08 with No comments
Ini semua kejadian gara-gara saya suka banget sama soft ice cream yang didukung oleh udara kota Semarang yang akhir-akhir ini panasnya naudzubillah. Karena itu saya jadi terinspirasi untuk mencoba semua soft ice cream yang ada di Semarang (maruk apa doyan?). Kenapa harus soft ice cream? Kenapa bukan es krim-es krim yang lain? Karena soft ice cream itu unik, enak, daaaaaan murah meriah. Rasanya juga bedaaaaa banget sama gelato (yang kita gak tau itu gelato beneran atau bukan) yang harga per scoopnya bahkan bisa sampai 35k padahal rasanya b aja, lebih enak soft ice cream malah.  Dan jangan bandingkan soft ice cream dengan es krim-es krim pabrikan. Ya karena memang gak sebanding.

Sebenarnya saya ingin tau apa sih bedanya soft ice cream yang satu dengan yang lainnya dari segi rasa. Walaupun saya sudah pernah mencoba hampir semuanya, tapi saya tidak pernah membandingkan brand yang satu dengan brand yang lain sekaligus. Awalnya saya berencana akan melakukan tour de soft ice cream ini sendirian. Saya bakal beli beberapa brand sekaligus, terus sok-sokan mau saya makan sendiri, toh cuma es krim, pasti gampang! Hal selanjutnya yang saya tau adalah betapa saya sangat bersyukur karena mengajak seorang teman saya untuk menjalankan ide creamynal saya ini hehe.

Jadilah kami menjalankan misi kami pada hari Sabtu akhir pekan kemarin. Sabtu kemarin kami memang hanya mencoba lima soft ice cream yang berbeda. Tapi karena setau saya total ada tujuh produsen soft ice cream di Semarang yang kebetulan saya sudah pernah nyobain juga, jadi saya masukin ke review semua hehe. Berikut adalah tujuh soft ice cream di Semarang yang sejauh ini telah saya coba. Peringkat No. 1 adalah yang paling saya rekomendasikan. Here we go!

7. Wendy's
Pas pertama kali nyobain es krimnya Wendy's, yang kebayang adalah frosty-nya Circle K hahaha! Habisnya rasanya mirip! Cuma punya Wendy's ini lebih lembut (yaiyalah!) dan lebih cepat mencair daripada yang lainnya. Yang bikin es krimnya Wendy's masuk urutan paling bontot di list ini adalah menurut saya soft ice ini nanggung karena walaupun judulnya soft ice, ternyata nggak soft-soft amat. Jadi kurang merepresentasikan soft ice cream yang sesungguhnya. Ya mungkin karena spesialisasi Wendy's bukan di situ. Buat rasa es krimnya menurut saya terlalu manis. Karena saya sudah manis (halah basi). Saya gak terlalu suka manis soalnya hehe. Tapi coklatnya kerasa kok aromanya, kayak ovomaltine gitu deh. Ukuran yang medium ini gelasnya besar, jadi bisa bikin kenyang. Saran saya kalo makan di Wendy's, akan lebih pas kalo pesen yang ukuran junior aja. Untuk yang ukuran medium ini harganya Rp 21.000. Rate harga dan rasa (6/10)

6. Momoya Grand Edge
Nyobain es krim ini pertama kali sekitar dua tahun yang lalu. Es krimnya lembut, teksturnya agak padat dan rasanya kuat. Manisnya pas dan gak bikin eneg. Dengan harga Rp 15.000 udah dapet satu soft ice cream cone. Sementara untuk yang kombinasi berbagai dessert dan soft ice dibandrol dengan harga mulai Rp 25.000 sampai Rp 40.000-an. Well, dengan harga segitu, kita bisa dapet rasa es krim yang enak plus tempat nongkrong yang keren. Sebanding lah ya. Momoya ini tempatnya kece buat nongkrong dan mereka gak cuma jualan dessert dan soft ice aja, tapi ada juga makanan Jepang lainnya lho. Overall, es krimnya enak, one of the best lah. Tapi mungkin saya gak akan kesini kalo saya lagi pengen banget soft ice cream kecuali kalo sekalian pengen nongkrong. Sekali lagi, it depends on what you fond of, the place or the soft ice. Rate harga dan rasa (7/10).
P.s. foto yg ini bukan punya saya, full credit to the pic taker.
5. A&W
Harganya Rp 10.000 atau Rp 11.000 saya lupa haha. Pokoknya sekitaran itu. Es krimnya A&W ini lembut dan gak se-creamy punya KFC maupun McD. Teksturnya pun ringan, malah menurut saya yang paling ringan dari semua yang saya coba. Tapi justru aroma vanilanya lebih kuat dari KFC dan McD. Selai strawberrynya juga lebih enak daripada punya McD. Enak sih, tapi saya prefer yang lebih creamy dan teksturnya lebih padat. Rate harga dan rasa (7/10)

4. KFC
Saya rasa es krimnya KFC dulu gak seenak ini deh, itulah yang ada di benak saya waktu kemarin saya makan lagi es krimnya KFC setelah sekian lama. Rupanya es krimnya KFC sudah mengalami banyak kemajuan sejak terakhir kali saya makan. Es krimnya yang sekarang jauh lebih lembut dari segi tekstur daripada yang dulu. Kira-kira satu grade di bawah McD sedikit lah. Tapi kenapa peringkatnya gak saya taruh persis di bawah McD? Karena ada yang lebih enak dari KFC tapi masih lebih enak es krimnya McD. Es krimnya KFC ini harganya cuma Rp 8.500 btw. Rate rasa dan harga (8/10).
3. Monas Ice Cream
Jadi, siapa kah yang bisa menyaingi McD dan KFC dalam hal per-soft ice cream-an? Jawabannya adalah Monas Ice Cream! Pernah denger? Monal Ice Cream ini adanya di Tlogosari. Tapi katanya sebelum ada di Tlogosari, mereka sempat buka di daerah Unnes dan sekitar Stadion Jatidiri tapi udah tutup. Jadi, kenapa Monas Ice Cream saya taruh di urutan ketiga? Karena... Jeng jeng jeng.... Es krimnya hampir seenak McD tapi harga lebih murah dari KFC! Banyangin ya, untuk es krim ukuran gelas 14oz, dibandrol dengan harga Rp 6000 aja! Murah banget kaaann. Makanya kedai es krim ini gak pernah sepi pengunjung alias rame terus. Dan yang kebanyakan jajan adalah anak sekolahan habisnya murah dan enak sih. Tekstur es krimnya lembut dan ringan tapi aroma dan rasanya cukup kuat. Bayangin aja es krim merk Walls tapi dalam bentuk soft ice. Sama sekali bukan seperti es krim buatan amatir. Sayang saya gak sempat nyimpen gambarnya. Kalo ada yang lagi ke Tlogosari cobain deh, hehe. Rate harga dan rasa (8,3/10)

2. Mc Donald
Siapa sih yang gak kenal soft ice cream legendarisnya McDonald? Pasti semua udah pernah nyobain kan? Yup, es krimnya McD emang famous bangetlah. Teksturnya lembut banget, creamy, dan manisnya pas. Selain itu, variannya yang banyak bikin orang gak pernah bosen. Kalo buat saya sih yang paling favorit ya sundae coklat, gak pernah pesan yang lain. Rate untuk harga dan rasa saya kasih 8,5/10. Selain enak, harganya juga terjangkau, hanya 10-15rb-an. Saya rasa gak ada deh orang yang gak suka es krimnya McD. Termasuk saya salah satunya. Es krimnya McD selalu jadi favorit saya sampai semua berubah sejak.... negara api menyerang. Eh gak deng. Sejak ada pendatang baru yang berhasil membuat saya berpaling padanya. Ecieee.... Siapa kah diaaa??? Yuk kita lihat urutan selanjutnya.
P.s. fotonya bukan punya saya. Credit to pic taker.
1. Tong Tji Ice Bar
Ini dia nih soft ice yang jadi favorit saya sejak setahun terakhir. Tong Tji Ice Bar tergolong pemain baru dalam dunia per-soft ice cream-an di Semarang. Tidak seperti yang lainnya, Tong Tji Ice Bar ini baru ada sekitar dua tahunan atau kurang lah di Semarang. Walaupun begitu, soft ice creamnya menurut saya adalah the best deal diantara yang lainnya. Itulah yang bikin Tong Tji Ice Bar ada di urutan nomor satu. Kenapa? Karena unik, enak dan terjangkau semua kriteria ini ada di soft icenya Tong Tji. Dari tekstur es krimnya sebenernya mirip dengan soft icenya Momoya tetapi yang ini lebih ringan dan lebih enak di lidah, sedangkan dari segi rasa dan harga, lebih enak dan lebih murah dari McDonald. Untuk satu cup/cone es krim cuma dihargai Rp 10.000 aja. Murah kan? Selain itu yang saya suka dari enak  krim ini adalah rasanya yang unik. Beda dari yang lain, es krim ini punya rasa teh yang gak akan bisa ditemukan di es krim mana pun. Tehnya pun teh Tong Tji jasmin tea yang dikombinasikan dengan susu dan coklat, bukan green tea yang mainstream itu. Setau saya, di Semarang, Tong Tji Ice Bar baru punya dua gerai yaitu di Mall Ciputra dan DP Mall. Cobain deh. Hihihi. Rate rasa dan harga (9/10).
Itulah tadi review soft ice cream di Semarang yang pernah saya coba. Sekali lagi list ini dibuat sesuai dengan selera penulis, maka dari itu tidak bisa dijadikan standar buat kebanyakan orang (dih pede battt). Oke sekian dulu yaaa... Kalo soft ice cream favorit kalian di Semarang apa????

Ciao~   

Selasa, 19 September 2017

Tren Musik 2017 dan Playlist yang Playleast

Posted by Kirana on 19.04 with No comments
Errrr... harusnya tulisan ini sudah saya selesaikan dua minggu yang lalu. Tapi karena sok menyibukkan diri, jadi baru sekarang sempat saya selesaikan. Btw, udah September aja nich. Gak kerasa 2017 udah tinggal kurang dari 4 bulan lagi! Well, stay positive! Stay positive, people!!! Sebelum kita tiba di penghujung rindu tahun dan bakalan ganti tahun bentar lagi, kira-kira apa sih yang paling diinget di tahun 2017 ini?

Buat saya, tahun 2017 adalah tahun dimana dua lagu ini jadi lagu paling overrated tahun ini. Lagu apaaaa???? Ini nih lagunya Ed Sheeran yang Shape Of You dan Despacito-nya Justin Bieber. Padahal ada lagunya Ed dan JB yang lain yang gak kalah bagusnya. Misalnya nih lagunya Ed yang Galway Girl atau lagunya JB yang 2U kan juga baguuussss. Ya gak sih? Awalnya saya seneng-seneng aja nih denger dua lagu tadi dimana-mana mulai di radio sampe di mall-mall. Tapi lama-lama bosen juga, seriuously! Saya bahkan sampe yang, "Yah, mosok lagunya ini-ini aja yang diputer, kayak gak ada lagu lain aja!" Tampaknya selera musik saya agak berbeda dengan selera para khalayak. Yasudah tak apa. *Nangis di pojokan* 

Genre musik EDM juga masih mendominasi tren musik tahun ini. Kayaknya tahun ini adalah tahun yang bagus buat karir para DJ macem Alan Walker, Calvin Harris, Zedd, Martin Garrix dan yang gitu-gitu deh ya. Lagu-lagu top 40 juga mentok disitu-situ dan penyanyi yang itu-itu aja. Terus tahun ini banyak solois yang  kolab sama DJ juga nih mulai dari Selena Gomez, Demi Lovato, Zara JKT48 Larsson, Dua Lipa dan mungkin nanti Taylor Swift juga. Mungkin. Tapi saya sih berharapnya nggak :v

Saya sebenernya biasa aja sama musik EDM, gak yang suka-suka banget. Tapi kalo ada yang muter musik jenis itu di keramaian tak apa tak kau sadari, saya pasti juga bisa ikut menikmati. I don't hate it. But I would never put it on my playlist. Karena... apa ya, musik-musik EDM itu beriziq dan saya kurang suka musik-musik kayak gitu buat disumpelin ke kuping saya to escape from the reality for a while. Haduuu, bisa-bisa saya malah pusing ntar. Untuk urusan playlist, saya gak terlalu ribet sih, malah bisa dibilang terlalu simpel. Kalo biasanya orang playlistnya selalu up to date sama musik-musik kekinian, saya mah nggak update-update-an. Justru monoton. Dari dulu saya dengerinnya ya itu-itu aja, tapi anehnya sampai sekarang belum bosen tuh. Is this the sign of love?

Nih ya saya kasih bocoran playlist saya selama tujuh tahun terakhir:


Yep, tujuh penyanyi teratas yang selalu mengisi playlist saya selama tujuh tahun terakhir ini sejak saya SMA ya cuma Taylor Swift, SCANDAL, ONE OK ROCK, YUI, AKB48, SKE48 dan The Corrs. Malah pas SMA bener-bener cuma lagu-lagunya SCANDAL, ONE OK ROCK, dan YUI aja yang bisa bertahan di kuping saya. Sementara Taylor Swift, AKB48, SKE48 dan The Corrs, saya malah baru suka lagu-lagu mereka selama empat tahun terakhir ini. Yang lain mah lewat. Maksudnya saya didengerin cuma buat selingan aja hehe. Karena saya dengerinnya yang itu-itu aja, biarlah saya sebut playlist saya dengan playleast karena emang selama ini saya bener-bener sukanya sama mereka-mereka tok yang bisa dihitung pake jari tangan.

Jadi bisa dibilang selera musik saya tuh "receh" tapi gak yang "receh-receh" bangetlah. Receh disini maksudnya mainstream ya. Karena sebenernya saya gampang suka sama lagu-lagu yang catchy tapi kalo lagu itu gak ada yang unik menurut saya, saya pasti bakal cepet bosan walaupun tadinya saya sukaaaaaaaaaa banget. Saya sukanya musik yang gak aneh-aneh tapi juga yang gak terlalu simple. Makanya yang bener-bener bisa bikin saya suka dikit banget. Bener-bener my playlist is play least.

Bahas sesuatu yang remarkable di tahun 2017 belum komplit kalo gak bahas comebacknya Taylor Alison Swift di tahun 2017 ini. Apalagi ada nama dia di playleast saya. Penyanyi yang comeback dengan single baru yang berjudul Look What You Made Me Do ini sempat membuat fansnya penasaran dengan teaser-teaser video bertema ular. Awalnya saya gak ngerti apa maksudnya dia bikin video-video kayak gitu. Tapi akhirnya sampai saat ini saya tetep gak negrti juga apa motivasinya. Yang jelas, Tay yang sekarang itu bedaaaa banget sama Tay yang dulu pas jaman-jaman Red apalagi pas jaman Fearless sama Speak Now yang dia masih keliatan alim-alimnya. Huaaaaaaa saya sedih berat. Little did I know, di album yang berjudul Reputation ini, dia pengen nunjukkin kalo dia bukanlah dia yang dulu lagi. Perubahan Ini dia tunjukkin di lirik lagu, musik dan MV dari lagu terbarunya. Yaudah lah ya, suka-suka dia mau berubah kayak gimana juga. Toh itu hidupnya dia. Yang jelas rasa suka saya sama lagu-lagu lamanya Tay juga gak bakal bisa berubah. Saya sukaaaaa banget sama dia pas jaman-jaman Fearless sama Speak Now dan Red juga deh. Yah jadi sedih lagi kan T_T

Yaudahlah segitu dulu (tapi segitunya panjang :v). Yang tadinya mau bahas playlist malah jadi bahas yang lain-lain juga hehe.

Ciao~   


Jumat, 25 Agustus 2017

Merindumu

Posted by Kirana on 11.54 with No comments
Teruntuk kamu yang tersayang.


Hai, kamu.

Bagaimana kabarmu?

Terus terang, aku sangat rindu.

Masih ingatkah kamu dengan diriku?

Aku rindu menggenggammu.

Aku rindu hari-hari dimana kamu mengisi hari-hariku.

Aku rindu dimana setiap akhir pekan kita pasti bertemu.

Aku rindu hari-hari kita masih bersama dulu.

Perlu kamu tau, aku masih seperti yang dulu.

Aku masih sering memikirkanmu.

Aku masih sering memikirkan,

Kapan kita akan bertemu lagi?

Kapan aku bisa menggenggammu lagi?

Aku masih ingat dirimu.

Kamu begitu sederhana waktu itu, tapi aku cinta.

Ketika aku megenggammu, aku selalu merasa bahagia.

Aku merasa bahwa kita memang ditakdirkan untuk terus bersama.

Sampai ternyata waktu memisahkan kita.

Kau telah pergi.

Tapi aku percaya,

Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.

Sekarang kau tlah berubah, aku tau itu.

Kamu sudah tidak seperti yang dulu lagi.

Kini kau menjadi lebih baik, lebih sempurna.

Begitu banyak orang yang menyukaimu lebih dari aku.

Tapi suatu saat nanti pasti akan kubuktikan,

Bahwa aku masih mencintaimu,

Dan suatu saat nanti kau akan menjadi milikku lagi.

Kamu akan selalu ada di hatiku.
I miss you!!!

Salam sayang,

K

-----

Note:
Haha! Iya! "kamu" yang saya maksud disini adalah controller dari sebuah game console Playstation. Dulu pas masih SD tuh saya suka banget main PS. Tiap weekend  pasti main PS. Waktu itu udah pengen PS dari lama, tapi baru boleh beli pas udah kelas 5 SD. Itu pun pake duit tabungan sendiri. Waktu itu harganya Rp 600.000. Tabungan saya langsung habis.

Saya udah suka sama game sejak SD kelas 3 mungkin ya. Bayangin, kelas 3 SD itu saya udah baca-bacain majalah game yang saya dapet dari bude saya yang waktu itu ngajar SMA. Bayangin, anak kecil baca majalah remaja, majalah game pula! Walaupun majalahnya gak saya baca full, tapi saya suka liat-liatin gambarnya. Waktu itu saya pikir game itu keren, grafiknya juga bagus-bagus. Pas itu saya jadi tau apa itu Final Fantasy, Lara Croft, Mortal Kombat, dll. Sebelum akhirnya bisa main PS, dulu saya pas awal-awal suka numpang main Sega di rumah tetangga sebelah walaupun temennya cowok semua. Game yang pertama kali saya mainkan adalah game macem Super Mario Bross, Donkey Kong, Battle City, Contra, Tekken, tau kan ya? Anak angkatan taun 90-an pasti tau lah :v
Saya gak suka lho main game menye-menye nan imut walaupun saya cewek. Makanya itu saya lebih suka game-game Playstation daripada game-gamenya Nintendo. Main game macam The Sims, Kirby atau Pokemon malah bikin saya bosen dan ngantuk. Saya malah lebih suka game olahraga, balapan dan berantem! HAHAHAHAHA

Sampai sekarang pun saya masih suka game. Tapi sayang saya sudah gak punya console game. Dulu sempat punya PS3 tapi saya jual karena jarang dimainin dan butuh duit. Walaupun saya udah gak main game, saya masih suka lho ngikutin perkembangan game dan console. Mereka ini adalah bagian hidup saya yang tak terpisahkan (ceilah). Saya nulis postingan ini juga dalam rangka saya lagi kangeeeeeeen banget sama PS. Pengen banget saya punya PS4. Controllernya itu looohhh sexy abezzzz.... Tiap kali liat update-an game baru juga rasanya gemeeess pengen nyoba. Mungkin nanti deh kalo lingkungan sudah mendukung, saya beli tuh PS4 dan hendheld console yang lain. Harus bisaaa... Amin! Sampai ketemu lagi yaaaa Playstation!

Ciao

Jumat, 18 Agustus 2017

Setahun Lebih

Posted by Kirana on 21.38 with No comments
Gak kerasa ternyata udah setahun lebih blog ini berdiri terhitung sejak postingan pertama tanggal 17 Juni 2016 kalo gak salah. Yakali emang blog punya kaki???? Eh maaf, aktif maksudnya. Gak kerasa blog ini udah aktif setahun lebih. Sebenernya gak bisa dibilang aktif-aktif banget juga sih soalnya udah lebih dari setahun tapi tulisannya masih dikiiiiiiit banget. Kalo postingan ini dihitung, berarti baru ada tiga puluh postingan dalam kurun waktu setahun lebih. Sedikit yaaaa. jika dibanding dengan jumlah hari dalam setahun.

Setelah saya baca-bacain lagi, ternyata isi blog ini didominasi oleh curhatan-curhatan saya. Kamu nulis sendiri, lupa sendiri, ini blognya kamu bukan sihhh?? Hehe. Ya emang kan niat awalnya saya bikin blog ini buat curhat bukan buat komersil. Jadi ya wajar kalo lebih banyak curhatnya :v Btw, selamat ulang tahun ya blogku syg, muach muaaach! Terima kasih sudah menemaniku selama ini, menjadi tempat curhat yang paling tidak pernah protes dan selalu nrimo apa yang saya curhatkan xD

Semoga tahun-tahun mendatang saya bisa cerita yang lebih dari sekedar curhat menye-menye tidak berfaedah. Semoga saya jadi lebih rajin nulis yang lebih bermanfaat dan yang gak kalah penting, semoga selalu ada bahan buat ditulis hehe.
Yaudah segitu dulu ya.

Ciao~

Kamis, 17 Agustus 2017

Kenapa Selalu Buku Terjemahan?

Posted by Kirana on 21.24 with No comments
Ya, itulah pertanyaan yang kerap kali saya lontarkan kepada kegiatan belajar mengajar pada waktu saya duduk di bangku kuliah selama 4,5 tahun. Lama banget duduknya ntar bisa-bisa ambeiyen! Yailah itu mah cuma istilah doang, sudahlah kamu tidak usah sok norak deh, diri saya sendiri.... Ehem! Kembali ke pertanyaan awal tadi. Selama saya kuliah di fakultas ekonomi jurusan akuntansi, saya terheran-heran kenapa bahan ajar yang dipakai sama dosen-dosen kebanyakan adalah buku-buku terjemahan yang mayoritas ditulis sama profesor-profesor dan doktor-doktor dari Amerika sana. Aneh banget nggak sih????? Hampir semua mata kuliah bukunya buku terjemahan. Mungkin hampir semua fakultas dan jurusan lain juga mengalami hal yang sama. Ya kecuali jurusan sastra Indonesia sih, udah PASTI bukunya dari Indonesia asli. Yakali sastra Indonesia bukunya dari Belanda.

Saya selalu tidak pernah tidak kzl pada textbook-textbook terjemahan waktu kuliah. Ya gimana saya nggak kzl, mending kalo terjemahannya itu nggenah dan mudah dipahami. Sayangnya kebanyakan buku terjemahan seperti tidak diterjemahkan oleh orang yang paham dengan konteks buku yang diterjemahkan. Jadi ya banyak kata-kata yang nggak pas dipake dan bisa menyebabkan mahasiswa bingung hingga menyababkan salah tafsir (alah). Yang mestinya artinya gitu jadi gini, yang harusnya artinya gini jadi gitu. Mudeng kan? Tapi kalo saya disuruh milih, ya mending baca terjemahan daripada versi aslinya sih :v Itu baru salah satu hal yang bikin saya kzl sama buku terjemahan.

Salah duanya yang bikin saya kzl sama buku-buku terjemahan jaman kuliah adalah, itu kan buku yang nulis bukan orang Indonesia ya, otomatis isi bukunya pasti me-refer pada apa-apa yang berhubungan sama asal negara penulis lah. Untuk lebih gampangnya, mari kita sebut saja contohnya penulis buku berasal dari Amerika. Ya otomatis apa yang dia tulis sudah pasti jelas adalah sebuah pedoman bagi siswa di Amerika karena sesuai dengan lingkungan dan keadaan sebenarnya mereka di sana. Sedangkan kita kan di Indonesia. Ya mungkin memang ada keadaan dimana di Amerika dan di Indonesia itu mirip, tapi kan itu hanya sebagian. Dan menurut saya itu adalah sesuatu yang kurang relevan.

Nih ya saya kasih contoh nggak relevannya kaya gimana. Karena saya jurusan akuntansi, contohnya mata kuliah akuntansi keuangan. Jadi tahun 2012 itu lagi gencar-gencarnya konvergensi standar akuntansi Indonesia dari PSAK ke IFRS yang notabene adalah standar internasional. Intinya standar akuntansi kita itu disesuaikan dengan standar internasional agar supaya laporan kuangan perusahaan di negara kita itu comparable dengan laporan keuangan perusahaan dari negara-negara lain juga. Sama juga dengan Amerika yang dulunya pake standar akuntansi GAAP jadi harus menyesuaikan dengan IFRS. Mau nggak mau, karena kiblat bahan ajar kami adalah dari Amerika, kami harus belajar penyesuainnya GAAP ke IFRS, sedangkan di Indonesia sendiri sedang melakukan penyesuaian dari PSAK ke IFRS. Hayo lo pusing gak tuh. Ya walaupun GAAP dan PSAK itu hampir mirip, tapi kenapa sih gak langsung aja belajar penyesuaian PSAK ke IFRS? yang menurut saya lebih tepat sasaran, hemat waktu, biaya dan tenaga. Buku yang membahas penyesuaian PSAK ke IFRS justru hanya digunakan sebagai buku pendamping. Padahal harga buku kuliah kan gak murah.

Itu gak cuman mata kuliah akuntansi keuangan aja ya. Mata kuliah yang lain pun juga begitu adanya. Mulai dari sistem informasi akuntansi, pasar modal, teknologi informasi bisnis, apalagi yang namanya manajemen. Gak ada tuh pake buku karangan orang Indonesia. Yang ngzlin lagi tuh makul pasar modal kan tentang permodalan gitu ya, tentang saham dan suku bunga. Kita yang bank sentralnya adalah bank Indonesia jadi harus belajar tentang permodalan di Amerika yang bank sentarnya adalah The Fed. Kita jadi lebih tau suku bunga The Fed daripada suku bunga Bank Indonesia. Terus mahasiswa disuruh belajar sendiri lagi tentang struktur permodalan di negara sendiri, bagaimana cara kerja bank sentral kita itu. Yailah mau belajar bank sentral negara sendiri aja mesti muter-muter ke Amerika dulu. Toh kalo kita kerja di perusahaan multinasional yang beroperasi di negara ini juga mereka bakal ngikut peraturan di negara ini kok. Orang Indonesia demen banget dah gak langsung to the point aja. Mungkin kebawa budaya basa-basi kali yee... Lah kok nyambungnya ke siniiii.

Kekzlan saya gak berhenti di situ aja. Baru-baru ini saya juga baca-baca buku textbooknya anak fakultas psikologi tentang manajemen SDM yang lagi-lagi  buku terjemahan Amerika tentunya. Memang sih pada dasarnya manajemen SDM itu mungkin sama hampir di semua negara. Tapi contoh-contohnya tentu saja jelas banget nggak relevan sama realnya di sini karena budaya, undang-undang dan peraturan yang dipakai di Amerika dan Indonesia kan beda BGT. Buku yang seharusnya bisa memberikan contoh konkrit malah hanya memberikan bayangan semu belaka. Misal ketika si buku menjelaskan tentang undang undang ketenagakerjaan, ya jelas undang undang  ketenagakerjaan Amerika yang dipake wong yang nulis orang Amerika. Kenapa gak sekalian aja belajar UU Ketenagakerjaan kita sendiri? Tau sendiri kan gimana pas kuliah, dimana satu buku itu yang ngajar adalah mahasiswa sendiri lewat presentasi? Yang saya juga gak paham, kenapa kemampuan softskill begitu diagung-agungkan daripada pemahaman konteks materi perkuliahan. Menurut saya sih dua-duanya penting tapi harus seimbang juga.

Saya masih gak ngerti deh kenapa pendidikan kita itu seolah Amerika sentris banget? Sukanya buku-bukunya dari Amerika atau jangan-jangan kurikulumnya kita ngikut juga? Sayang banget aja sih, soalnya bangsa ini kan punya kepribadian sendiri yang jelas beda dengan Amerika jadi kenapa mesti ngikut-ngikut sih? Atau diam-diam kita telah disugesti biar kerja di Amerika? Kita ini mau memajukan bangsa sendiri atau mau memajukan Amerika, sih? Bukannya saya gak suka sama Amerika ya. Biasa aja banget. Cuman kok kesannya Amerika itu udah kaya yang paling bagus bahkan lebih bagus dari negara mana pun apalagi dibanding negara kita sendiri. Ya emang sih nggak bisa dipungkiri kalo Amerika itu negara yang jelas lebih maju dari Indonesia, tapi kan belum tentu yang baik buat mereka, baik buat kita juga.

Saya juga nggak ngerti kenapa kita seakan kurang mendukung buku-buku karya profesor-profesor yang ada di Indonesia terutama untuk bidang studi sosial (karena saya anak sosial hehe). Menurut saya akan berasa lebih relevan aja sih. Saya yakin kita juga punya banyak profesor yang sangat kompeten di bidangnya. Toh mereka juga banyak yang lulusan dari Amerika, Eropa maupun Australia.Ya walaupun mereka lulusan universitas internasional terkemuka yang cara pandang atau pola pikirnya dipengaruhi oleh bagaimana mereka menimba ilmu dulu di almamater mereka, saya yakin buku yang mereka tulis akan lebih merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini. Menurut saya itu lebih baik daripada kita menggunakan bahan ajar murni dari luar negri.

Hal terakhir yang pengen saya bahas tentang buku terjemahan yang kurang relevan itu adalah pada akhirnya apa yang telah kita pelajari dari buku-buku itu nantinya akan menyusahkan kita-kita di dunia kerja setelah kita lulus kuliah. Karena berdasar artikel yang saya baca, para pemberi kerja mengeluhkan jika lulusan sarjana di Indonesia itu masih banyak yang kurang kompeten untuk masuk ke dunia kerja. Mungkin ya karena itu tadi, yang dipelajari pas kuliah nggak sinkron sama apa yang terjadi di dunia kerja sebenarnya. Kurang ada sinkronisasi antara bidang akademis dan praktis. Yang kita pelajari di bangku kuliah itu sebenarnya hanya sepersedikit bangetnya dari yang benar-benar terjadi di luar sana. Kurang to the poin! Blibet! Muter-muter! Bayangin, udah ilmunya dikit, bahan ajarnya kurang relevan. Ya pantes aja industri perekonomian kita majunya seret. Pokoknya kalo akademis sama praktis masih bertolak belakang, bangsa ini susah majunya. Terus gimana biar cepet maju? Kembali lagi akar dari semua ini adalah sistem pendidikan kita yang memang masih butuh pembenahan. Kalo saya bilang sih sistem pendidikan kita ini butuh diruwat. Bukan cuma yang pendidikan atas aja, tapi bener-bener dari tingkat dasar mulai dari guru, kurikulum, hingga bahan pengajaran, semua harus dibenahi. Karena pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan SDM yang berkualitas juga kan nantinya.

Segini dulu deh ya ini aja udah panjang banget. Lain kali saya mau curhat tentang pendidikan di Indonesia ah hehe. Ampun lah saya jangan diceqal apalagi dicyduck yaaa... Saya hanya menyampaikan pendapat. Dan pendapat saya sangatlah tidak valid karena saya hanyalah butiran debu kosmik yang bahkan tidak bisa menembus atmosfer bumi. Apasih! Hehe

Ciao